Siswa SDN Tatah Layap 3 Harus Rela Berbagi Kelas

Sejak Tahun 1977, Baru Sekali Merasakan Bantuan

TATAH MAKMUR – Di balik glamour julukan sebagai kota intan, berbagai masalah terkait infrastruktur masih menjadi problem yang harus dibenahi pemerintah. Termasuk di sektor pendidikan, karena masih banyak sekolah kondisinya menyedihkan. Seperti halnya terjadi di Sekolah Dasar Negeri (SDN) Tatah Layap 3 ini terletak di Desa Tatah Layap Kecamatan Tatah Makmur Kabupaten Banjar. Para siswa di sana, harus rela berbagi ruangan karena bangunan yang tak memadai.

Nampak bangunan dengan warna kuning hijau itu berdiri kokoh, tetapi pada bagian plafon dan dinding diantaranya dalam keadaan rusak. Di bagian plafon luar pada kelas 1 sampai 6, terlihat kayu triplek berjuntai. Kemudian, pada bagian dinding kelas 6 pun sudah reyot dan berbahaya. Sempat beberapa siswa mendorong dinding yang hampir jebol. Pada bagian WC pun sudah tak bisa digunakan lagi.

Sekolah yang memiliki 37 siswa itu belum mampu memenuhi Standar Pelayanan Minimum. Bagaimana tidak, ruang kelas berukuran kurang lebih 4×6 meter itu masih harus dibagi dua dengan murid kelas lain. Dalam satu ruang lokal, seperti kelas 1 dan 2 harus digabung. Karena, jumlah ruang lokal di sekolah tersebut masih berjumlah 4 buah. Jadi, sementara murid kelas 1 dan 2 sampai kelas 3 dan 4 harus bergabung satu sama lain.

Hendra, siswa kelas 3 yang tinggal di Desa itu mengatakan, selama selama tiga tahun harus berbagi ruang kelas. Namun dia berharap kelak kelasnya tak disekat seperti ruangan di kelas 5 dan 6.

“Rancak tuh kedangaran ae (sering kali terdengar, red) suara guru yang mengajar di bilik sebelah. tapi kada papa jua, sudah biasa,”ucapnya, Senin (11/9).

- iklan -

Di sisi lain, Kharil Wafa, murid kelas 5 yang tidak ingin membagi ruang kelasnya seperti di kelas 1 sampai 4. Sebab bisa mengganggu konsentrasi belajar. “Nda mau seperti kelas sebelah,” cetus bocah yang disapa Wafa itu.

Sementara itu, Kepala Sekolah SDN Tatah Layap 3, Hasan Makki, S.Pd, saat dikonfirmasi menceritakan, bantuan yang pernah didapat dari dinas pendidikan terakhir kali tahun 2004 silam. Itupun hanya berupa perbaikan atap ruang lokal. “Sekolah ini sudah berdiri sejak tahun 1977, dan bantuan dari pemerintah baru sekali di dapat,” ujarnya.

Lihat juga Video : Potret Pendidikan

Kalau sekadar kunjungan, dia mengaku beberapa pekan lalu pihak Disdik Kabupaten Banjar sempat berkunjung. Itu sebagai respons proposal yang sudah pernah diusulkannya pihaknya ke Disdikbud pada tahun  2016. “Katanya akan dianalisis dulu, kalau sesuai prosuder akan dibantu,” ungkapnya.

Kalimantanview.com sempat melihat bagian kantor guru dan ruang Kepala Sekolah. Konon menurut Hasan, ruangan tersebut merupakan rumah dinas guru. Agar bangunan tersebut bisa diberdayakan secara maksimal lebih baik digunakan ruang kerja.

Di samping bangunan ruang kantor guru, terdapat satu bangunan tua yang kondisinya paling parah. Soalnya ketika dibuka, bagian dalamnya nampak seperti gudang. Dalam ruang tersebut terdapat buku-buku pelajaran dalam kondisi berdebu. “Maunya sih rumah dinas ini diperbaiki dan dijadikan ruang perpustakaan,” harapnya. ***

Jurnalis Ramadhani MT. Damoiko
Berita lainnya
Komentar
Sedang memuat...