Seni Ukir Banjar yang Kian Tergusur (2-Habis )

Identik Floral dan Geometri, Dimaksudkan untuk Tolak Bala

Foto : Rudiyanto

Motif floral, geometris, dan kaligrafi paling banyak digunakan dalam ornamen seni ukir Banjar. Berdasar kajian dari sejumlah sumber, ketiga motif ukiran tersebut dipengaruhi oleh penyebaran Islam yang begitu begitu kuat di Tanah Banjar, menggantikan sistem dan nilai-nilai ajaran agama Hindu-Budha.

RUDIYANTO
Jurnalis Kalimantan View
Martapura Timur

Meski begitu, secara filosofi ukiran Banjar yang banyak terdapat pada rumah-rumah tradisional bermakna serupa, yaitu sebagai tradisi penolak bala. Pada agama Hindu misalnya, selalu ditemukan ukiran atau patung Kala atau Petara Kala dengan mata kedua mata merah dan melotot. Kala biasanya dipasang sebagai hiasan di atas pintu rumah atau dahi lawang. Kala bermakna penolak bala.

Seiringnya masuk dan berkembangnya Islam di tanah Banjar pada abad 1800-an, Kala disamarkan dalam bentuk ukiran motif floral berbentuk tumbuhan sulur-suluran menjalar. Sebagian ukiran motif sulur-suluran itu ada yang dibuat seperti spiral yang sepintas menyerupai mata Kala.

Seiring kian kuatnya penyebaran Islam, perwujudan kala di dahi lawang kian tersamarkan. Selain ukiran motif floral, ukiran berbentuk kali grafi mulai buat dan bermakna serupa yang menyebutkan bahwa Tuhan Maha Penjaga.

Makna tolak bala juga terdapat pada hiasan samping pintu dan diding pemisah antara ruang depan dan ruang utama atau yang sering disebut Tawing Halat pada rumah adat Banjar Bubungan Tinggi atau Gajah Baliku. Motif daun, tali pilin dan kaligrafi banyak di ukir di bagian ini. Kata-kata dalam bahasa arab yang bermakna pujian pada Tuhan sebagai yang Maha Menjaga jelas menunjukan funginya tak jauh berbeda dengan Kala sebagai tolak bala.

- iklan -

Baca juga : Seni Ukir Banjar yang Kian Tergusur (1)

Bagian lain yang bermakna sebagai tolak bala pada rumah tradional Banjar adalah pilis atau listplank. Motif yang paling banyak digunakan pada pilis adalah motif daun Jaruju. Jaruju adalah tumbuhan rawa khas pulau Borneo yang tumbuh menjalar berduri-duri. Duri-duri pada Jaruju inilah yang kemudian dimaknai sebagai tolak bala.

Penggunaan motif floral dipengaruhi kuatnya budaya Islam yang masuk di tanah Banjar. Ajaran Islam menampikkan pembuatan hiasan termasuk ukiran berbentuk mahkluk hidup.

Selain pengaruh budaya Hindu-Budha pada pemaknaan, ukiran pada rumah tradional Banjar juga kental dan dipengaruhi etnis Dayak. Pada bagian Jambang rumah misalnya, dibuat ukiran sebagai perlambangan burung enggang. Burung enggang dalam kepercayaan Dayak dianggap sebagai penguasa alam atas. Begitu pula ornament pada bagian bawah yang melambangkan naga sebagai penguasa alam bawah.

Selain dayak, kebudayaan China yang kemudian juga terlihat dalam seni ukir Banjar. hal itu terlihat dari penggunaan warna yang dominan mencolok pada ukiran Banjar periode-periode berikutnya.  Akulturasi budaya China dalam ukiran Banjar terlihat dari penggunaan warna-warna mencolok, utamanya merah. ***

Jurnalis Rudiyanto
Redaktur Slamet Afifudin
Berita lainnya
Komentar
Sedang memuat...