Mencoba Setia dengan Denting Panting di SMA PGRI 1 Banjarbaru

BANJARBARU, Zaman boleh berganti, tapi tradisi tetap memiliki pewarisnya. Demikian pula panting, musik tradisional khas Banua ini masih bisa eksis karena ada anak-anak muda separti siswa SMA PGRI 1 Banjarbaru yang mau mengakrabi. Tak peduli walau harus terpinggir oleh hingar-bingar genre musik yang lahir dari rahim kapitalisme budaya saat ini.

Di salah satu ruangan kelas yang disulap menjadi tempat latihan, delapan siswa berseragam putih hitam terlihat serius dengan alat musiknya. Ada yang memegang gitar panting, gong, gamelan banjar, dan beberapa alat musik lain. Dulu, alat musik ini memang dimainkan secara perorangan atau solo. Namun seiring waktu, musik panting bisa dikolaborasikan dengan alat-alat musik lainnya. Bahkan drum, biola dan organ tunggal.

Pembina ekskul Musik Panting SMA PGRI 1 Banjarbaru, Syahri Rizky N SPd mengatakan, kegiatan ini sudah berlangsung sejak tahun 2005. ”Dulu ketika kepala sekolahnya Pak Saladri yang menyediakan peralatan musik panting ini. Kebetulan beliau juga seorang penggiat seni. Jadi semenjak beliau pensiun, warisan alat-alat musik panting ini turun-temurun hingga sekarang,” kisah Syahri.

- iklan -

Namun sangat, dari tahun ke tahun peminat ekskul  musik panting ini terus berkurang. Kini haya tinggal 10 siswa saja yang bergabung.  ”Setelah beberapa kali pergantian kepala sekolah, saya akhirnya ditunjuk untuk menjadi pembina ekskul ini untuk meneruskan tongkat estafet mengembangkan kesenian ini,” kata pria lulusan Sendratasik FKIP ULM.

Anak-anak muda Banjarbaru, lanjut Syahri, sebenarnya memiliki minat dan bakat yang bagus dalam hal seni musik. Hanya saja mereka cenderung menyukai seni-seni musik yang bersifat modern. ”Jadi awalnya mereka yang tergabung di ekskul ini diajari terlebih dulu dasar-dasar musik panting. Kemudian mereka boleh mengkreasikannya sendiri. Karena musik panting ini memang agak sulit, minimal harus tahu dulu lagu-lagu Banjar,” katanya.

Salah seorang anggota ekskul musik panting Hayatun Nisa mengatakan, tertarik belajar karena menyukai kesenian. “ Kebetulan di sini ada ekskul musik panting, langsung deh saya ikut. Sebab dari dulu saya suka keunikan suara panting,” katanya.

Syahri menginginkan agar seni musik panting ini bisa lebih sering ditampilkan. Hal ini bertujuan agar bisa kembali ‘bergaung kencang’ di kalangan anak muda. Salah satu caranya adalah dengan mengkolaborasikan musik tradisional panting dengan alat-alat musik modern.***

Jurnalis Dema
Redaktur Slamet Afifudin
Berita lainnya
Komentar
Sedang memuat...