FMIPA ULM Kembangkan Batubata Non Pembakaran

BANJARBARU, Program Studi (Prodi) Kimia FMIPA ULM memprakarsai pembuatan batubata tanpa pembakaran. Cara baru dalam proses produksi ini disambut hangat masyarakat pembuat batubata di Kelurahan Guntung Manggis, Kecamatan Landasan Ulin, Banjarbaru. Produksi perdana pun telah dilakukan karena dianggap memiliki sejumlah keunggulan dibanding model konvensional.

Selain lebih cepat dan praktis, proses pembuatan batubata non pembakaran ini dianggap sebagai solusi semakin terbatasnya ketersediaan kayu bakar. Disamping dapat menekan pencemaran udara akibat asap CO2 dalam proses pembakaran.

Terobosan yang menjadi bagian Program Iptek bagi Masyarakat (IbM) ULM ini menurut Ketua Pelaksana Dahlena Ariyani,  tujuan utamanya adalah semain meningkatkan pendapatan para pembuat batubata di Kelurahan Guntung Manggis.

“Kita menawarkan kepada mereka proses pembuatan batubata model baru dengan tanpa pembakaran dengan memanfaatkan silika dari limbah pertanian yaitu sekam padi. Proses ini lebih ramah secara lingkungan dan menjanjikan pendapatan lebih dari sisi ekonomi,” jelasnya, beberapa waktu lalu.

Dahlena mengatakan, sejumlah permasalahan yang muncul seperti sulitnya mencari kayu bakar,  biaya upah pekerja, menjadikan harga produk ini turun naik. Apalagi di tengah banyaknya alternatif bahan seperti batako, batu alam dan lainnya, masyarakat bisa dengan mudah mencari alternatif lain jika harga terlalu mahal. Alhasil secara ekonomis, menyebabkan lesunya bisnis batubata di Kelurahan Guntung Manggis.

- iklan -

Anggota pelaksana Program IbM Dwi Rasy Mujianti menambahkan, kegiatan melibatkan dua kelompok pembuat batubata di lokasi. “Awalnya kita kumpulkan masyarakat untuk menjelaskan produksi batubata non pembakaran ini. Kemudian kita lakukan pelatihan pembuatan hingga produksi dan menyiapkan pemasarannya. Karena diakui, sebagai produk baru perlu pengenalan dan menyiapkan manajeman pemasaran yang lebih modern,” ungkapnya.

Proses pembuatan batubata non pembakaran ini menggunakan bahan utama tanah liat seperti yang digunakan selama ini dengan dicampur abu sekam padi dan semen sebagai bahan perekat.  Proses pencampuran tanah liat,abu sekam padi dan semen diaduk secara merata dan ditambahkan sedikit air sampai adonan liat. Adonan kemudian siap cetak dan dikeringkan selama 3 hari.

“Produk baru yang dihasilkan nyatanya membuat batubata jenis ini memiliki kekuatan standar dengan model konvensional dengan cara pembakaran. Sebab telah dilakukan uji tekan maupun serapan dengan  nilai kuat tekan kisaran 48,05 – 53,78 kg/cm2 dan nilai serapan air 25 – 29% , dimana masuk dalam kualitas standar Bata secara SNI dan ASTM ” jelasnya.

Sementara itu Ramin, Salah satu kelompok pembuat batubata yang terlibat dalam program ini, mengatakan, pembuatan batubata dengan komposisi perekat berbahan sekam padi secara nyata mampu memotong proses produksi yang panjang.

“Jika dengan model pembakaran, proses pembuatan memang panjang. Dari pengadonan, cetak, pengeringan, hingga penyusunan di tunggu dan pembongkaran. Belum lagi pembakarannya yang saat ini memang kita sangat terkendala dengan ketersediaan kayu,” ungkapnya.

Bahkan Ramin mengatakan, dirinya sempat akan pindah menggunakan pembakaran dengan bahan sekam padi seperti yang dilakukan beberapa rekannya karena sulitnya mencari kayu. “Dengan temuan dari kampus ini, kami sebagai penguasaha batubata merasa sangat terbantu,” tegasnya.***

Jurnalis Sella
Redaktur Slamet Afifudin
Berita lainnya
Komentar
Sedang memuat...